Selasa sore, tepatnya pukul 17.00 saya baru selesai kuliah. Kuliah terakhir di hari selasa itu adalah Pengantar Ilmu Politik. Sejujurnya saya juga kurang tahu siapa nama dosennya kalau tidak lihat namanya di jadwal. Satu satunya yang saya ingat adalah beliau berasal dari Ternate. Selain beliau mengaku, nampak jelas pula dalam logatnya beliau berbicara.
Pulang kuliah, langsung saja saya bergegas menuju parkiran untuk menjemput Lambhorgini saya yang menjomblo diparkiran ditinggal sang pemilik. Di perjalanan yang cukup melelahkan tersebut, tiba tiba ada teman yang datang untuk meminjam helm. Wajar saja, rumahnya di Cijantung, cukup dekat dengan hati. Yasudah akhirnya saya pun meminjamkannya. Toh, rumah saya pun tak jauh.
Dari lantai 2, dimana saya memarkir Lambhorgini saya, kini harus berjuang menuju gate di pintu keluar hanya untuk memberikan sebutir kertas yang sekilas hanya berisi kata-kata dan garis-garis di tengahnya. Setelah perjalanan yang jauh, akhirnya sampai pula di depan gate. Petugas gate yang saya rindukan akhirnya bertemu juga. Bukan bermaksud yang lain. Maksudnya adalah supaya saya bisa cepat pulang ke rumah menghirup udara kebebasan. Ku berikan secarik kertas membosankan itu ke petugas. Ntah ada berapa ratus atau berapa ribu kertas yang (hampir) serupa bentuknya, yang dia terima dalam 1 hari. Sungguh membosankan, kawan.