Selasa, 09 September 2014

Mulut, Pelindung dan Palsu

Selasa sore, tepatnya pukul 17.00 saya baru selesai kuliah. Kuliah terakhir di hari selasa itu adalah Pengantar Ilmu Politik. Sejujurnya saya juga kurang tahu siapa nama dosennya kalau tidak lihat namanya di jadwal. Satu satunya yang saya ingat adalah beliau berasal dari Ternate. Selain beliau mengaku, nampak jelas pula dalam logatnya beliau berbicara.

Pulang kuliah, langsung saja saya bergegas menuju parkiran untuk menjemput Lambhorgini saya yang menjomblo diparkiran ditinggal sang pemilik. Di perjalanan yang cukup melelahkan tersebut, tiba tiba ada teman yang datang untuk meminjam helm. Wajar saja, rumahnya di Cijantung, cukup dekat dengan hati. Yasudah akhirnya saya pun meminjamkannya. Toh, rumah saya pun tak jauh.

Dari lantai 2, dimana saya memarkir Lambhorgini saya, kini harus berjuang menuju gate di pintu keluar hanya untuk memberikan sebutir kertas yang sekilas hanya berisi kata-kata dan garis-garis di tengahnya. Setelah perjalanan yang jauh, akhirnya sampai pula di depan gate. Petugas gate yang saya rindukan akhirnya bertemu juga. Bukan bermaksud yang lain. Maksudnya adalah supaya saya bisa cepat pulang ke rumah menghirup udara kebebasan. Ku berikan secarik kertas membosankan itu ke petugas. Ntah ada berapa ratus atau berapa ribu kertas yang (hampir) serupa bentuknya, yang dia terima dalam 1 hari. Sungguh membosankan, kawan.



Sampai dirumah...
Setelah berberes diri, saya pun bergegas mencari segenggam telur untuk dimasak. Dan setelah sekian lama saya memasak telur, baru kali ini saya gagal membuat telur itu berpose indah untuk di makan. Ah, toh dimakan pula. Saya hanya bisa berdoa, semoga telur ini bisa jodoh dengan nasi dan tempe yang akan berkunjung ke lambung yang sudah bernyanyi ini. Sambil menonton TV, berita-berita seputar ibadah haji pun bermunculan. Tentu saja seperti biasa, tak ada yang saya perhatikan selain makanan yang ada di depan saya.

It's time for pray.... Begitu bukan yak bahasa Inggris nya?
Kenapa pakai bahasa Inggris? Kebetulan saja, sebenernya sih engga, saya sedang mendengarkan lagu "kebangsaan" para Beatlemania (pencinta The Beatles) yang berjudul Hey Jude. Ya pokoknya ini waktunya sholat. Bergegas menuju mesjid. Di perjalanan yang cukup menguras tenaga dan jarak yang harus ditempuh pun sangat jauh. Sekitar 20 meter dari rumah menuju masjid, ada saja orang yang menggunakan masker yang aneh. Ya pokoknya kelarin dulu sholatnya.

Selesai sholat, terpikir kembali tentang masker itu. Apa yang memotivasi dia untuk memakai masker berbentuk mulut siluman? Jujur saja, masker itu sinkron sih dengan wajahnya. Masker dengan bentuk mulut siluman itu, tentu saja fungsi nya adalah untuk melindungi pernafasan dari polusi udara dan debu. Pertama kali melihat, saya pikir itu mulut beneran. Ternyata pernyataan saya itu (hampir) salah! Karena mirip sekali, hehe. Makin unik saja.

Ntah kenapa pula setelah kasus yang menggemparkan itu, saya ingin menulis di blog saya ini. Blog yang sudah lama tak terus. Because, I want a Revolution. Sesuai dengan lirik di lagu Revolution yang di nyanyikan John Lennon dkk. Lagu itu tepat saya dengarkan ketika saya membuat paragraf ini. Ntah ingin di tulis saja. Sesuai dengan masukan dosen saya di kampus, tulis saja apa yang ingin ditulis, dan  saya ingin menulis ini. Alright... Alright... Alright...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar