Minggu, 04 Januari 2015

Ketika Aku Tidak Bisa Secerewet Dulu

Suatu pagi aku terbangun. Terbangun karena sebuah mimpi yang tak mengenakkan. Mimpi dimana aku melihat kamu sudah bersama orang lain. Iya, dia adalah pacar barumu. Mimpi itu akan menjadi pedang tajam yang amat menusuk hati ini bila itu menjadi sebuah fakta. Sebuah fakta yang tidak dapat dilawan, dibantah apalagi diterima. Aku tak bisa membayangkan hal itu terjadi. Ntah jadi apa aku nanti.

Mimpi seperti itu memang sering kali terjadi, terlebih ketika aku merasa orang yang aku sayang mulai menjauh. Mulai menjadi seseorang yang tidak seakrab dulu. Merasakan (sedikit) diabaikan. Salah satunya mungkin karena sebuah pernyataan cinta. Sebuah pernyataan hati yang bisa saja jujur, bisa juga tidak tergantung dari yang mengucapkannya. Sebuah pernyataan cinta yang umumnya dibarengi dengan ajakan menjalin hubungan khusus. Pacaran, tunangan atau pernikahan. Ya, rasanya kurang bila menyatakan cinta hanya sekedar menyatakan.

Jujur saja, diabaikan itu tidak nyaman rasanya. Diabaikan ketika mengharap sebuah kabar sudah cukup merusak suasana. Resah dan khawatir. Bukan apa-apa, nyatanya seperti itu adanya. Sebuah balasan yang jujur sudah cukup menenangkan. Ketenangan itu bahkan tidak bisa ditandingi dengan narkoba sekalipun. Sebuah kabar dari orang yang kita sayang, jelas saja menjadi sebuah penenang hati.

Semua ini mulai aku rasakan ketika mulai paham bagaimana perasaan mereka yang aku abaikan. Sebelumnya, aku terkenal sebagai orang yang cuek sekalipun dengan pacar sendiri. Terlalu asik dengan hal-hal yang aku lakukan. Bermain, fotografi, Railfanning dan lain-lain. Tak heran bila aku tidak mampu menjalin hubungan pacaran dalam waktu yang lama. Hanya satu kali aku merasakan hubungan diatas 1 bulan, tepatnya 6 bulan. Sisanya? 3 minggu, 2 minggu, bahkan 1 minggu.

Sejak itu aku sadar. Aku mulai menghargai mereka yang masih (dan mau) perduli denganku. Mencoba selalu memberikan perhatian terbaik kepada setiap orang, dan tentu saja khususnya lawan jenis. Dan mungkin aku kini selalu menjadi pembalas terakhir meski hanya membalas "Okesip" atau yang lainnya. Sebuah perhatian memang tidak ternilai harganya dan hal itu yang dulu pernah aku sia-siakan.

Perhatian ekstra tentu saja selalu aku berikan kepada seseorang yang membuatku jatuh hati. Mengucapkan selamat pagi, mengingatkannya tentang sholat, selalu punya waktu untuk dia. Itu hanya beberapa contoh yang aku lakukan. Aku hanya berharap mendapatkan respon baik, bahkan bisa membuatnya jatuh hati. Aku memang bukan cowok yang punya wajah ganteng. Cuma jujur saja, aku juga sering jatuh hati kepada seseorang yang secara wajah memang tidak terlalu cantik, namun bersifat baik. Disaat itulah ketika kedua bola mata mulai dibutakan oleh hati. Tidak perduli fisik, selama dia mampu membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik, perjuangkan.

Aku selalu cerewet. Resah dan khawatir bila dia yang aku hubungi tak kunjung membalas. Pergi tanpa kabar, dihubungi tak menjawab. Menakutkan. Terlebih aku juga cowok cemburuan. Melihat dia tertawa dengan cowok lain saja cukup membuat panas hati ini. Namun juga terkadang kecemburuanku ini, jujur saja berlebihan. Seakan-akan aku terlalu protektif. Jujur saja, cowok mana yang tidak iri bila ada orang lain yang membuatnya tertawa melebihi dirinya? I didn't mean to hurt you. I'm sorry that I made you cry. Oh, no. I didn't want to hurt you. I'm just a jealous guy - Jealous Guy by John Lennon.

Aku tidak akan melarang bila si cewek pergi untuk waktu lama, fokus dengan apa yang dia lakukan, ataupun yang lainnya selama dia mengatakannya terlebih dahulu. Paling tidak, rasa resah dan khawatir tidak muncul. Aku tidak keberatan bila kamu sedang ingin fokus dengan apa yang kamu lakukan. Bermain, nongkrong, atau belanja 3 haripun silahkan selama aku tahu apa yang kamu lakukan. Tidak pernah sekalipun aku akan melarang selama yang kamu lakukan tidaklah salah. Aku juga tidak mau menjadi seorang yang protektif. Aku hanya ingin sifatku ini dihargai.

Biasanya bila aku sangat jatuh hati padanya, diabaikan seperti apapun tidak akan menghalangi perhatianku. Meskipun hanya sekedar mengucapkan selamat pagi atau yang lainnya. Namun berbeda bila aku tidak terlalu tertarik dengannya. Aku akan pergi perlahan-lahan. Kembali ke kehidupan sendiriku. Menjadi seorang Introvert yang menghabiskan waktu sendirian, menyelesaikan masalah sendirian dan bicara sendirian. Sampai detik ini, aku masih merasakan ada sesuatu yang selalu mengajakku bicara padahal aku sedang sendiri. Aku mulai cuek dengan cewek itu. Aku tidak secerewet dulu. Sekalipun BBM-an, mungkin aku balas sesukanya. Aku tidak bisa secerewet dulu.

Perhatian, kebawelan dan tegur-sapaku hilang seketika. Semuanya bisa terjadi kala aku tidak lagi dianggap ada. Kamu, dia dan mereka yang sudah tidak menganggapku ada. Aku tidak masalah. Aku juga tidak ingin menjadi musuh. Aku slalu menawarkan diri bila orang itu butuh bantuan. Silahkan saja hubungi aku bila kamu ada masalah. Aku akan punya waktu untukmu. Dan jujur saja, memang diabaikan sungguh menyakitkan. Hal-hal kecil seperti itu sering kali merubahku. Dan mereka kembali meminta kecerewetanku, Ketika Aku Tidak Bisa Secerewet Dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar