Hari ini, Minggu (17/04) ada sebuah tantangan menghampiri. Kali ini gue disuruh untuk buat tulisan tentang pandangan gue 10 tahun ke depan. Menarik, karena tantangan ini memaksakan hidup gue yang (kurang) seru ini untuk dibuat lebih seru supaya orang (kayaknya) mau baca.
Padahal, hidup gue ini kalo andaikan dibikin film, sekitar 85,9% isi film nya hanya berisikan gue kuliah, makan sama main game. Sisanya adalah daftar isi, kesimpulan dan daftar pustaka.
Oke langsung aja...
Saat tulisan ini dibuat, gue masih berumur 19 tahun dan sudah kuliah semeter 4. Ini umur yang ga enak, karena ketika orang tau faktanya seperti itu, kuping lo akan sepanas mereka yang ditanya kapan kawin. Pertanyaan ga penting yang sering menghampiri gue adalah "lo anak aksel ya?". Apakah muka gue yang kusut kayak hitungan statistika diskripsi anak kuliah ini membuat gue terlihat seperti anak aksel yang kerjaannya belajar mulu? Cukup nak cukup...
Diumur 19 tahun ini, gue telah memikirkan 2 jalan hidup gue ketika gue selesai kuliah nanti. Ketika nama gue sudah semakin panjang dengan hiasan "S.Pd (Sarjana Pendidikan)", apakah benar gue bakal jadi guru?
Perkiraan gue lulus paling cepet adalah pada tahun 2018. Gelar maha besar sebagai Sarjana Pendidikan bakal gue terima. Soal nanti gue beneran jadi guru atau engga, gue bakal berusaha. Tapi, banyak dosen gue yang bilang nanti untuk jadi guru, tidak lagi semudah seperti sekarang. Sekarang aja udah agak susah, gimana nanti? FYI, sepengetahuan gue kalo mau jadi guru (terlebih PNS) bagi Sarjana Pendidikan, harus melalui berbagai tahap. Dua tahap yang menurut gue cukup penting adalah tahap keikutsertaan dalam Pendidikan Pelatihan Guru (PPG) dan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T).
Untuk PPG sih ga ada masalah, karena ya kurang lebih itu sama aja kayak lo kuliah lagi. Hal ini dilakukan supaya lo mendapat semacam bukti kalo lo adalah guru yang profesional. Sedangkan SM-3T adalah lo bakal dikirim ke daerah 3T tadi, mengajar disana untuk waktu yang cukup lama. Merasakan bagaimana hidup sederhana dan bahkan apa adanya. Biasanya yang cukup berat buat ikut SM-3T ini cewek, karena berkaitan sama izin dari orang tua. Untuk tahap selanjutnya, gue masih gagal paham.
Lalu, apa jalan gue yang lain setelah gue lulus nanti?
Gue berencana meniti karir di perusahaan PT. KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Ya, sebuah perusahaan operator yang menaungi pengoperasian KRL di Jabodetabek.
Hal ini merupakan sebuah yaa semacam pelarian, karena dulu gue pengen banget jadi masinis. Tapi karena ketidaksukaan gue dengan IPA yang membuat gue ga bisa jadi masinis. Akhirnya, ya seperti yang pernah gue liat sebelumnya di lowongan pekerjaan di perusahaan ini ada beberapa yang mungkin bisa gue masukin. Seperti pelayanan, humas atau yang lainnya. Gue ga bisa cerita banyak soal ini karena sepertinya bakal banyak yang ga ngerti,
Pandangan gue untuk 10 tahun ke depan adalah gue bakal nikah paling tidak 1 tahun setelah punya pekerjaan tetap. Gue ga mau terlalu lama menunda. Selain alasan-alasan klasik seperti biar ga dosa dan lain sebagainya, alasan lain adalah gue gak mau punya jarak umur yang jauh dari umur gue. Dan demi mempersingkat waktu, mungkin calonnya nanti ga jauh-jauh dari temen. Hal ini dikarenakan ga mau waktu gue terbuang cuma buat PDKT
Jadi perkiraan andaikan gue lulus 2018, gue sudah berumur sekitar 21 tahun. Kalo jadi guru, sekitar 2 - 3 tahun baru bisa punya kerjaan jadi guru (sepertinya), tetapi kalo di KCJ mungkin setelah lulus gue bisa kerja disana. Namun, masih terganjal status pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) alias pegawai kontrak. Satu-satunya cara agar gue bisa bertahan adalah dengan berkerja optimal sehingga bisa jadi pegawai tetap, atau kalo di seragamnya itu "Plat Hitam".
Lalu mungkin 1 tahun setelah gue nikah gue sudah punya anak. Gak masalah kelaminnya apa, yang penting ga bikin repot di akhirat nanti hehe...
Apa lagi ya... Kayaknya itu aja.. .Untuk selanjutnya... Gak tau...
Tapi ya terima kasih buat tantangannya... Maaf kalo jelek, mendadak dapet laporan kalo ada tugas kuliah yang deadline...
#FYI: Judul tulisan terobsesi dari lagu The Beatles "When I'm Sixty Four". Cuma kayaknya ga sampe umur 29 tahun. wkwk
Sebagian besar isi blog ini adalah hasil pikiran sendiri. Mungkin. Agak lupa juga sih hehehe
Minggu, 17 April 2016
Sabtu, 09 Januari 2016
Loser... I'm A Loser...
Let's we talk about song and my real life.
Sejujurnya aku tidak pernah cocok berada di dunia ini. Bagiku yang memang sudah kesepian, tak ada lagi cinta. Cinta, bagiku yang sudah kesepian, sudah lama terlupakan dan Aku ingin pulang ke rumah. Aku ingin kembali seperti disaat aku masih kecil. Aku merasa aku tidak ada di dunia ini. Mencintai tapi tak pernah merasa di cintai. Aku sepertinya akan berpikir bahwa suatu saat, cinta adalah sesuatu yang baru bagiku.
Mengulangi kesalahan dengan wanita. Cinta satu malam, tapi seketika bosan saat matahari terbit. Kesenangan egois yang tidak bisa aku pertanggung jawabkan. Aku selalu merasa salah ketika ingin dekati wanita. Merasa aku bukan orang yang tepat untuk memilikinya. Cinta satu malam itu aku paksakan karena merasa aku bukanlah orang yang baik untuknya. Meski sejujurnya aku sangat teramat menginginkan dia.
Pecundang, penyendiri. Seorang pecundang yang berpura-pura terlihat kuat. Berkaca, kau hanyalah seorang pecundang. Seorang yang brengsek yang berlindung dibalik luka. Berkaca, Aku hanyalah seorang pecundang. Ya, aku memang sangat pecundang dan penyendiri. Aku bahkan tak pernah berani menyampaikan perasaanku. Ntah karena takut ini terlalu cepat atau memang aku takut dia akan menjauh.
Terkadang aku lebih sering memandang tanah daripada langit. Aku lebih sering bersedih daripada tertawa. Namun kesedihanku takkan pernah aku tunjukkan didepanmu. Aku tak ingin membuat masalahmu bertambah banyak. Cukup aku saja yang merasakan.
Bahkan sangat susah untuk bernapas. Aku mencoba mengangkat tangan, tapi tidak ada yang meraihnya dan Aku menyalahkan langit. Terkadang aku ingin menyudahi segalanya. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal. Setelah pengembaraan di jalanan ini usai. Mohon, aku harap aku bisa menutup mata tanpa penyesalan. Perasaan ini menyiksaku. Bisakah kita bersatu saja agar siksaan ini cepat berakhir? Aku meminta pertolongan, namun tak seorangpun datang. Aku ingin menyudahi semuanya, menyudahi perasaan ini. Dan aku berharap perasaan ini bertahan hanya kepadamu.
Jumat, 08 Januari 2016
Berlebihankah Aku?
Hari ini, tanggal 8 Januari 2016. Sudah 8 hari ku lalui di tahun 2016 ini. Berharap masih ada yang bisa berubah dan kuubah menjadi lebih baik. Kangen sekali rasanya.
1 tahun lalu, sekitar bulan Oktober, November atau Desember (aku tak ingat jelas) menjalani rutinitas seperti biasa. Seorang Introvert, menyendiri sembari bermain media sosial. Salah satu yang kubuka adalah media sosial Instagram. Media sosial yang hanya berisikan gambar dan video singkat. Selalu dan selalu. Setiap membuka Instagram, foto apapun yang muncul di timeline pasti aku like. Bahkan gambar bodoh nan ga jelas seperti sifatku ini saja aku like.
Lambat laun, gerakan scroll-ku semakin ke bawah saja. Untung saja itu hanya Handphone, bukan tubuh wanita. Bisa kacau nanti kalo ternyata HP ku berubah jadi cewek.
Aku terhenti ketika ku lihat salah satu foto teman (cewek) di Instagram. Aku lihat mereka mesra sekali. Tak terasa ternyata tangan bodohku ini menusuk layar hp sebanyak 2x yang berakibat aku menyukai foto tersebut. Ntah sebenarnya aku suka atau tidak. Namun sepertinya, aku suka. Bukan... Bukan... Bukan fotonya. Tapi kepada si cewek itu...
Apakah aku merasakan hal yang sama ketika aku masih kelas 8 SMA? Rasa yang sama kepada orang yang sama. Ya, sebelumnya aku pernah menyukainya dan pernah jadian meski (sangat) sebentar waktunya. Aku hanya bisa tersenyum, berharap ini hanya perasaan suka biasa dan akan hilang pada waktunya. Aku hanya mendoakan yang terbaik pada saat itu.
Dan .... Ternyata aku salah...
Sampai tulisan ini dibuat, aku masih menaruh perasaan kepadanya. Kini dia sudah menjomblo, putus dari cowok itu. Dan kini aku bingung. Aku masih menyimpan perasaan kepadanya, namun aku sudah (hampir) tidak pernah berbicara dengan dia. Sesungguhnya aku ingin sekali berbicara dengannya. Namun, rasa cemburu telah mempengaruhi hidupku.
Kenapa? Berlebihankah aku? Sejak aku benar-benar merasakan cemburu, ah itu sungguh menyiksa. Cemburu melihat orang yang aku suka, berbicara, tertawa bahkan menjalin cinta dengan cowok lain itu sangat membuat hati ini ntah bentuknya seperti apa. Kadang, sudah jadi pacar sendiri pun sering merasakan cemburu ketika dia "hanya" berbicara dengan cowok lain. Namun aku tak pernah menyampaikan rasa cemburu tersebut. Aku selalu sembunyikan dan biarkan cukup aku yang tersiksa agar si cewek tersebut merasa tidak terkekang karena rasa cemburu itu.
Ya, itu sudah jadi pacar. Lalu sekarang dia hanya sebatas teman yang aku suka. Jelas sekali aku tidak punya hak untuk mengatur, bahkan untuk cemburu. Ketika aku punya pacar, aku juga tidak suka mengekang, cemburu pun aku telan sendiri.
Cewek yang aku suka ini adalah cewek yang sangat terbuka dalam artian dia bebas berkomunikasi dengan siapa saja. Jadi, ini akan menjadi momen sensitif dimana tidak hanya aku saja (mungkin) yang membuat dia terhibur, tertawa dan lain-lainnya. Bukannya jahat, namun pasti semua laki-laki ingin hanya dia yang dijadikan tempat bercerita, teman tertawa dan yaa kisah-kisah indah lainnya.
Tapi aku siapa?
Saat paragraf ini ditulis, dia berkata kalau ingin tidur lebih cepat karena besok dia harus menjalani UAS. Ya aku hanya mengiyakan dan mengucapkan selamat malam saja. Tak lebih, atau lebih tepatnya tidak bisa lebih dari itu mengucapkannya. Aku hanya takut, ini bukan waktu yang tepat untuk yaaa sedikit-banyak menceritakan isi hati meski dia juga menawarkan diri untuk jadi pendengan kalau aku ingin menceritakan sesuatu.
Aku hanya mendapat cerita singkat kenapa dia putus. Si cewek ini katanya ditinggalin begitu saja. Kelewatan benar... Sesungguhnya aku ingin sekali mendengar ceritanya, namun hanya ingin bila itu membuatnya menjadi lebih baik, bukan semakin sedih, semakin memburuk perasaannya. Aku ingin dia menjadi lebih baik, dan jauh lebih ingin dia lebih baik bersamaku.
Apakah mungkin? Mungkin? Iya mungkin. Namun aku sudah lebih dari 2 tahun tidak pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana caranya memikat hati cewek. Aku hanya berusaha berbuat baik kepadanya, meski terkadang terkesan agak berlebihan. Itu yang aku takutkan,takut justru membuat citraku memburuk baginya karena perbuatanku sendiri yang berniat berbuat baik.
Begitulah ceritanya. Mohon maaf bila tulisan ini tidak sistematis karena ini hanya curahan isi hati. Aku tidak merubah-rubah posisi paragraf. Aku menulis apa yang ingin aku tulis. Jadi, maaf bila pembaca agak bingung dengan isi tulisan ini.
Tapi ya aku akan mencoba mendapatkannya... Semoga...
1 tahun lalu, sekitar bulan Oktober, November atau Desember (aku tak ingat jelas) menjalani rutinitas seperti biasa. Seorang Introvert, menyendiri sembari bermain media sosial. Salah satu yang kubuka adalah media sosial Instagram. Media sosial yang hanya berisikan gambar dan video singkat. Selalu dan selalu. Setiap membuka Instagram, foto apapun yang muncul di timeline pasti aku like. Bahkan gambar bodoh nan ga jelas seperti sifatku ini saja aku like.
Lambat laun, gerakan scroll-ku semakin ke bawah saja. Untung saja itu hanya Handphone, bukan tubuh wanita. Bisa kacau nanti kalo ternyata HP ku berubah jadi cewek.
Aku terhenti ketika ku lihat salah satu foto teman (cewek) di Instagram. Aku lihat mereka mesra sekali. Tak terasa ternyata tangan bodohku ini menusuk layar hp sebanyak 2x yang berakibat aku menyukai foto tersebut. Ntah sebenarnya aku suka atau tidak. Namun sepertinya, aku suka. Bukan... Bukan... Bukan fotonya. Tapi kepada si cewek itu...
Apakah aku merasakan hal yang sama ketika aku masih kelas 8 SMA? Rasa yang sama kepada orang yang sama. Ya, sebelumnya aku pernah menyukainya dan pernah jadian meski (sangat) sebentar waktunya. Aku hanya bisa tersenyum, berharap ini hanya perasaan suka biasa dan akan hilang pada waktunya. Aku hanya mendoakan yang terbaik pada saat itu.
Dan .... Ternyata aku salah...
Sampai tulisan ini dibuat, aku masih menaruh perasaan kepadanya. Kini dia sudah menjomblo, putus dari cowok itu. Dan kini aku bingung. Aku masih menyimpan perasaan kepadanya, namun aku sudah (hampir) tidak pernah berbicara dengan dia. Sesungguhnya aku ingin sekali berbicara dengannya. Namun, rasa cemburu telah mempengaruhi hidupku.
Kenapa? Berlebihankah aku? Sejak aku benar-benar merasakan cemburu, ah itu sungguh menyiksa. Cemburu melihat orang yang aku suka, berbicara, tertawa bahkan menjalin cinta dengan cowok lain itu sangat membuat hati ini ntah bentuknya seperti apa. Kadang, sudah jadi pacar sendiri pun sering merasakan cemburu ketika dia "hanya" berbicara dengan cowok lain. Namun aku tak pernah menyampaikan rasa cemburu tersebut. Aku selalu sembunyikan dan biarkan cukup aku yang tersiksa agar si cewek tersebut merasa tidak terkekang karena rasa cemburu itu.
Ya, itu sudah jadi pacar. Lalu sekarang dia hanya sebatas teman yang aku suka. Jelas sekali aku tidak punya hak untuk mengatur, bahkan untuk cemburu. Ketika aku punya pacar, aku juga tidak suka mengekang, cemburu pun aku telan sendiri.
Cewek yang aku suka ini adalah cewek yang sangat terbuka dalam artian dia bebas berkomunikasi dengan siapa saja. Jadi, ini akan menjadi momen sensitif dimana tidak hanya aku saja (mungkin) yang membuat dia terhibur, tertawa dan lain-lainnya. Bukannya jahat, namun pasti semua laki-laki ingin hanya dia yang dijadikan tempat bercerita, teman tertawa dan yaa kisah-kisah indah lainnya.
Tapi aku siapa?
Saat paragraf ini ditulis, dia berkata kalau ingin tidur lebih cepat karena besok dia harus menjalani UAS. Ya aku hanya mengiyakan dan mengucapkan selamat malam saja. Tak lebih, atau lebih tepatnya tidak bisa lebih dari itu mengucapkannya. Aku hanya takut, ini bukan waktu yang tepat untuk yaaa sedikit-banyak menceritakan isi hati meski dia juga menawarkan diri untuk jadi pendengan kalau aku ingin menceritakan sesuatu.
Aku hanya mendapat cerita singkat kenapa dia putus. Si cewek ini katanya ditinggalin begitu saja. Kelewatan benar... Sesungguhnya aku ingin sekali mendengar ceritanya, namun hanya ingin bila itu membuatnya menjadi lebih baik, bukan semakin sedih, semakin memburuk perasaannya. Aku ingin dia menjadi lebih baik, dan jauh lebih ingin dia lebih baik bersamaku.
Apakah mungkin? Mungkin? Iya mungkin. Namun aku sudah lebih dari 2 tahun tidak pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana caranya memikat hati cewek. Aku hanya berusaha berbuat baik kepadanya, meski terkadang terkesan agak berlebihan. Itu yang aku takutkan,takut justru membuat citraku memburuk baginya karena perbuatanku sendiri yang berniat berbuat baik.
Begitulah ceritanya. Mohon maaf bila tulisan ini tidak sistematis karena ini hanya curahan isi hati. Aku tidak merubah-rubah posisi paragraf. Aku menulis apa yang ingin aku tulis. Jadi, maaf bila pembaca agak bingung dengan isi tulisan ini.
Tapi ya aku akan mencoba mendapatkannya... Semoga...
Langganan:
Komentar (Atom)