Kamis, 04 Desember 2014

BUKAN “BEGO-NIA” BIASA


            Sekolah merupakan tempat untuk menuntut ilmu. Kenapa ilmu harus dituntut padahal ilmu tidak salah? Sekolah adalah tempat dimana para siswa belajar. Mereka belajar dari banyak hal. Sekolah memang tak selalu menjadi tempat belajar. Seringkali menjadi perpaduan tempat belajar dan bermain. Namun, terkadang hanya menjadi tempat bermain.
Kesalahan, penemuan bahkan cinta pun dapat dipelajari di sekolah. Namun, tentu saja soal cinta itu bukanlah guru yang mengajarkan. Teman-teman yang sudah berintelektual tinggi dalam hal cintalah yang mengajarkannya. Meski sudah diajarkan tentang cinta, kadang sulit sekali memahami hal itu. Hati, keinginan dan perasaan wanita sulit sekali ditebak seperti menebak gocekan supir bajaj di jalanan.
Bego pengetahuan sepertinya sudah biasa. Namun, ada bego yang tidak biasa, yaitu Kebegoan cinta. Kebegoan cinta mulai marak dirasakan remaja masa kini. Masalah yang kadang sulit sekali diselesaikan bahkan dalam waktu yang lama. Bukan pria namanya kalau tidak mampu menaklukan hati wanita. Ketidaktahuan pria dalam menaklukan hati wanita bisa menjadi senjata yang memakan pria itu sendiri. Hal ini dapat membuat wanita merasa tidak nyaman, si pria merasa serba salah dan yang terburuk bisa membuat ilfeel wanita.

Selasa, 09 September 2014

Mulut, Pelindung dan Palsu

Selasa sore, tepatnya pukul 17.00 saya baru selesai kuliah. Kuliah terakhir di hari selasa itu adalah Pengantar Ilmu Politik. Sejujurnya saya juga kurang tahu siapa nama dosennya kalau tidak lihat namanya di jadwal. Satu satunya yang saya ingat adalah beliau berasal dari Ternate. Selain beliau mengaku, nampak jelas pula dalam logatnya beliau berbicara.

Pulang kuliah, langsung saja saya bergegas menuju parkiran untuk menjemput Lambhorgini saya yang menjomblo diparkiran ditinggal sang pemilik. Di perjalanan yang cukup melelahkan tersebut, tiba tiba ada teman yang datang untuk meminjam helm. Wajar saja, rumahnya di Cijantung, cukup dekat dengan hati. Yasudah akhirnya saya pun meminjamkannya. Toh, rumah saya pun tak jauh.

Dari lantai 2, dimana saya memarkir Lambhorgini saya, kini harus berjuang menuju gate di pintu keluar hanya untuk memberikan sebutir kertas yang sekilas hanya berisi kata-kata dan garis-garis di tengahnya. Setelah perjalanan yang jauh, akhirnya sampai pula di depan gate. Petugas gate yang saya rindukan akhirnya bertemu juga. Bukan bermaksud yang lain. Maksudnya adalah supaya saya bisa cepat pulang ke rumah menghirup udara kebebasan. Ku berikan secarik kertas membosankan itu ke petugas. Ntah ada berapa ratus atau berapa ribu kertas yang (hampir) serupa bentuknya, yang dia terima dalam 1 hari. Sungguh membosankan, kawan.